Selasa, 29 Juli 2014

Profesi itu pilihan



 Apapun profesi kita saat ini adalah pilihan yang terbaik dari Allah ta’ala

Ibu rumah tangga, guru, arsitek, insinyur, ….. (silakan sebutkan sendiri)

Karena posisi saya adalah seorang pendidik. Saya katakan pendidik bukan pengajar karena pengajar hanya sebatas mengajarkan ilmu tanpa memperhatikan akhlak anak-anak murid. Maka dari itu saya akan bercerita sedikit dengan hal yang berkaitan sebagai pendidik yakni sebagai pengajar dan pembelajar.
Pagi jam setengah enem, suhu udara Jakarta masih sejuk. Kebisingan masih teredam. Tak ada peluh keringat berdesakkan di bus ini. Bus andalan ibu kota yang semakin hari semakin bertambh jumlah penggunanya. Bus dimana tidk ada lagi orang-orang terberisikkan oleh suara fales seaadanya. Bus tak ada laagi di dalamnya orang-orang memakai wajah lesu untuk mendapatkan sedikit rejeki dari kepura-puraan lemah tak berdaya. Sehingga penumpang selalu merutuk “duh, pagi-pagi…@#$%^”

Sedikit olahraga untuk menggapai halte ini, turun naik. Lari-laari kecil jika sudah melihat dari kejauhan. Pagi yang energik… pagi  yang penuh kesibukkan. Diringi suara cicitan burung. Kami lesu menunggu bus yang sungguh jika jam nya telat dari seperti biasa maka lamanya luar biasa.

Jalanan ini jalan penghubung dari timur, selatan, utara, barat ke pusat kota. Semua kendaraan sudah mulai sibuk menapaki jalan beraspal mulus ini. Di depan halte ini dulu terdapat yang namanya gedung bioskop rivoli. Gedung bioskop yang digunakan oleh orang-orang dulu. Menghibur diri ketika kerjaan mulai memenuhi kepenatan. Tapi,,ah itu sudah lama sekali. Kebiasaan yang hanya mendapatkan kesenangan sesaat.

Kita tinggalkan kesibukkan jalanan. Mari kita kembali pada saat ini. Kamu tahu profesi itu pilihan sebuah hidup ? semua tergantung tujuan kita masing-masing. Apapun profesi kita, niatkanlah ini untuk mengambil sedikit dari dunia ini dan selebihnyaa kita lebihkan untuk akhirat kita. Kenapa ? karena dunia ini sementara dan asal kita adalah tempat dulu kakek kita, manusia pertama yang Allah ciptakan, nabi adam ‘alayhissalam diciptakan. Syurga. Iya syurga.

Tidakkah kita kangen tempat pertama kali kita diciptakan? Saya mau. Iya saya mau sekali. Gimana dengan kamu ? (tanyakan pada hati kita masing-masing)
Profesi itu pilihan. Saya sampai saat ini (masih) memilih profesi sebagai pendidik generasi selanjutnya. Ini memang pilihan yang sangat berat. Iya sungguh berat. Di profesi ini saya tidak hanya dituntut sebagaai orang yang cerdas tetapi sebagai orang yang emosinya baik. (flashback skripsi). Iya di profesi ini saya mungkin dibilang newbee. Pengalaman yang lalu sebagai pendidik mungkin masih dibilang tak ada apa-apanya untuk saat ini. Semua serba baru. Semua serba keras. Saya harus merubah kebiasaan berputar 360 derajat. Bangun pagi, berangkat pagi dan pulang larut sore hamper mendekati mghrib. Istilahnya pergi gelap, pulng gelap.

Memilih sebagai pendidik awalnya adalah pilihan yang amat paling terendah. Daari dulu sekolah hanya ingin bekerja di belakang layar computer. Di lantai tinggi gedung, deket jendela. Jadi ketika penat, bisa lngsung ngeliat keluar pemandangan. Tapi pada nyatanya Allah berkehendak lain. Saya (sampai) saat ini ditempatkan di lembaga pendidikan. Sekolah. Dimana sehari-hari berkutat mendidik anak-anak agar menjadi generasi yng menjujung tinggi ilmu dan akhlaq. Mendidik kebiasaan buruk menjadi baik. Yang jujur saya pun terkadang masih buruk disbanding mereka. Iya terkadang saya belajar kebaikan dari mereka. Saya belajar cerdas dalam segala hal pun dari mereka. Tak pernah putus semangat yang mereka tularkan pada saya.

“Menjadi guru itu adalah pekerjaan yang mulia. Mendidik anak-anak menjadi pribadi yang santun. Pergi berangkat ngajar itu merupakan jihadnya seorang guru. Pun ketika maut datang dalam keadaan kita berangkat dengan tujuan mulia yakni memberikan ilmu pada mereka, in syaa Allah dicatat sebagai amal kebaikan kita. Dengan mengajaar kita memberikan zakat ilmu yang Allah berikan pada kita kepada anak-anak. Dengan jalan mengajarlah kita memperjual belikan ilmu yang kita berikan pada Allah ta’ala. Kita memberikan ilmu kita pada orang-orang yang tadinya belum paham jadi paham. Yang tadinya tidak bisa membaca jadi bisa baca. Yang tadinya tidak bisa menghitung jadi bisa menghitung. Apapun itu, ilmu yang kita berikan kepada orang lain merupakan sebuah kebaikan “ –catatan pembukaan musyker EM**sc oleh ketua yayasan dengan sdikit tmbahan-

Saya memilih bertahan disini, di lembaga pendidikan ini karena disini terdapat banyak kebaikan untuk diri saya. Walau bisa dikatakan banyak juga beban sekolah yang diberikan pada saya. In syaa Allah saya niatkan untuk ibadah, dan saya selalu berdo’a Allah memudahkan semua kerjaan yang akan saya hadapi nanti. Semoga Allah mencatat semua kerjaan ini sebagai kebaikan untuk diri saya dan pemberat kebaikan timbangan saya nanti hingga nanti Allah mau berbaik hati mengumpulkan saya dengan nabi tercinta saya rasulullah salallahu’alayhi wassalam. Menjumpaa rasul di telaganya. Aamin allahumma amin.

Tak menafikan saya sungguh sangat ingin sekali bekerja di dalam gedung tinggi yang menjulang hamper tak terlihat batas antara langit dengan ruang kerja. Perasaan yang dari dulu saya impikan itu hampir menguap ketika melihat senyuman manis dari anak-anak itu. Pelukan hangat dari belakang tubuh anak-anak. Teriakan daan cerewetnya mereka membiaskan keinginan terpendam dalam hati saya.

Tak menafikan juga saya tak pernah suka diatur dengan atasan yang seenaknya merintah tanpa melihat keadaan dan kemampuan. Pemimpin yang selalu meanaktirikan mata pelajaran umum. Saya dan asatidzah pengampuh matpel umum selalu mengukur diri (terutama saya). Kami yang mungkin bisa dibilang memiliki keshalihan yang rendah disbanding asatidz pengampuh matpel diniyah. Kami yang selalu berusaha mengejar ketertinggalan ilmu dien kami. Tidakkah kalian merasakan betapapun kami iri dengan para wanita shalihah yang ilmunya sudah mumpuni. Saya sendiri amat menyesal, mengapa dulu tidak belajar ilmu dien saja. Tapi tak perlu lah saya menyesali takdir saya sebagai wanita yang hanya lulusan umum. Karena saya yakin Allah ta’ala mempunyai segudang hikmah untuk diri saya. Tugas saya adalah belajar agama, mengajarkan, memberi contoh pada keluarga saya, dan mengamalkan untuk diri saya. Tugas saya adalah husnudzon pada ketetapan Allah sampai kapanpun. Iya sampai kapanpun akan saya tanam dalam diri saya : “ini adalah yang terbaik untuk diri saya”


 – bogor, 2 syawal 2014-

diselesaikan sambil meresapi Q.S. AL-Qiyamah oleh ahmad saud

Sabtu, 05 Juli 2014

ini ramadhanku,,, 2014



Ramadhan 2014

Ramadhan kali ini gue ngelaluinnya di lingkungan yang masyaa Allah

Dan dengan setatus yang berbeda

Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Klo dulu gue sesenggukkan bolak balik kampus tapi sekarang gue sesenggukan karena murid… *lebay

Bnyk hal yang gue dapet dari sekolahan ini. Banyak banget.

Yang paling berkesan adalah gue paham diri gue sendiri.

Jadi ceritanya semester baru ini qt para mudarits/ah di tes stiffin. Ngetes kecerdasan masing-masing.
Finally hasilnya gue ini seorang “Thinking-ekstrovert”

Seorang yang dingin, kaku, scientist,logic…

Orang Te ini lawannya orang Fe… nah karena goldar gue “O” jadi gue ini termasuk Te campuran Fe. Analisis sotoynya adalah gue ini anget. Ga dingin ga panas..haaa
Gue punya temen yg gue anggep adik juga. 2 ustadzh yang masih belasan usianya tapi udah hafal puluhan juz. Dan mereka adalah cambuk serta cermin diri gue. 2 bocah kecil yang jd tumpuan gue buat macu diri ini untuk terus menghafal walopun sehari Cuma 1 ayat.hiks.
Mungkin nanti suatu saat kalo gue udah gk disekolaan ini, hal yng paling gue kangenin adalah 2 bocah ini….hee uhibbukifillah ya akhwat..
Gue nemuin hal yang diluar ga nemuin. Gue belajar bareng-bareng para asatidz, subhanallah. Entahlah nikmat dan anugerah yng Allah kasih buat hidup gue.
Dan ramadhan ini gue bisa ngerasain shalat di belakang syeikh yang langsung beljar di Yaman. Belio ini juga masih muda tapi ilmunyaaaa. Nyess banget gue rasanya bisa shalat di belakang seorang asatidz yang bacaannya tartil bingitz…
“Dan suatu saat setiap kebiasaan yang qt jalanin akan meninggalkan bekas untuk dikenang. Pun lingkungan kerja yg seperti ini. Lingkungan yang setiap saat mendekatkan kita pada syurga-Nya.”
kamu,,,iya kamu,,, #aladodit #standup
im waiting much moment...

Senin, 19 Mei 2014

Mishrary Rasheed

iya, itu qori’ favorite gue. dari gue mulai titik nol buat belajar ngapalin (sekarangpun msh sedikit sbnrnya)…

*maklum lah ya akal wanita itu setengah,,jd gak sempurna,,hhe *ngalesan

dulu gue dapet murottal itu dari seorang temen SMA gue yang sangat gue saying dan sekarang MASUK LIPIA….

ada perasaan bahagia dan sedih,,,

gue bahagia karena dia temen gue masuk kuliah yang belajarnya ilmu syar’i…

mudah-mudahan gue juga ketularan semangat dan keberuntungannya dia dr Allah untuk tetap istiqomah mempelajari ilmu syar’i

gue sedih karena gue masih begini-begini aja. belajar mah belajar tapi kok ya mentok terus..

tapi gue selalu bersyukur dan mengucapkan hamdalah…”Alhamdulillah ‘ala kulli hal”

gue selalu berprinsip : “apa yang kamu awali, ya harus kamu akhiri dengan baik”

prinsip itu bukan untuk aplikasi jodoh.. *eh

tapi buat mencari ilmu. whatever ilmu dunia (kuliah) ataupun belajar takhosus…

iya,, motto hidup gue selalu : manfaatkan waktu luang lo buat segala kebaikan,,,

tetiba kemarin gue sempet dengerin surat apa gtu dan qori’nya itu ya mishrary rasheed.

kok ya gue berasa ngenal suara ini live..

dan gue baru nyadar ternyata pas disana yang baca itu suara…………

dan itu adalah second moment in my life…

now,, im waiting the next moment…

waiting much moment from my rabb…

wait,,,wait,,,wait,,,,

#sabarsedikitlagi #youknowwhatimean #jomblosampehalal…

*story my second moment,,,nexttt… tapi gatau kapan gue bisa nulisnya karena sekolaan lagi sibuk mau persiapan kenaikan kelas…


iya gue nunggu sampe ini semua kelar,,,semoga dalam menunggu ini semakin baik...

lagi suntuk sama soal bocah,,malah nulis yang gak jelas gini...

Selasa, 29 April 2014

engkaukah seseorang itu...


Untukmu wahai jiwa yang masih dirahasiakan oleh Rabbku

Malam ini,,iya malam ini… kusempatkan mataku terbuka lebar untuk mengetik satu 

demi satu huruf hingga menjadi kalimat. Dan kalimat demi kalimat hingga menjadi sebuah cerita yang sarat dengan hikmah…

Malam yang dihiasi suara gemuruh di luar sana,, dan suara gemuruh dari lubuk hatiku…

Engkaukah seseorang yang ku pinta dari Rabbku..

Engkau kah seorang yang selalu memenuhi panggilan Rabbku di setiap lima waktu ke masjid

Mengisi shaf-shaf kosong di belakang sang imam…

Mentadabburi lantunan ayat demi ayat ketika berjumpa dengan rabbku di sela-sela waktu sibukmu…

Engkaukah seseorang yang melangkahkan kakimu ke majelis ‘ilmu-Nya,,,

Mengisi baris-demi baris yang lenggang serta mengalahkan waktu istirahatmu ketika hari libur kerjamu tiba…

Engkaukah seseorang yang selalu menemani ibu mu ketika ia memintamu untuk menemaninya memeriksakan kondisi fisiknya yang sudah rapuh…

Engkaukah yang giat mengisi waktu sibukmu dengan terus melantunkan dzikir pada Rabbku…

Engkaukah yang rela mengalahkan rasa kantukmu untuk menanti perjumpaan dengan Rabbku di sepertiga malam..

Engkaukah yang rela menghabiskan rizki yang telah kau dapati untuk memberikan infak dan shadaqoh pada para tetanggamu yang tidak mampu dan berdaya untuk mengisi perut kosongnya…

Engkaukah seseorang yang selalu terenyuh ketika lantunan ayat terdengar di telingamu…

Engkaukah yang rindu pada nabiku ketika shalawat dan cerita sifat-sifatnya bertebaran di buku-buku maupun internet…

Engkaukah seseorang yang rela menyempatkan satu harimu untuk satu ayat Rabbku…

Dan terakhir,,,

Engkaukah seseorang yang mau menerimaku,,,

Seseorang wanita yang amat minim ilmu agamanya…

Seseorang wanita yang tak rupawan,,,

Seseorang wanita yang akan menerima kekurangan dan kelebihanmu…

Iya,, untukmu calon pintu syurgaku..

Engkaulah calon pintu syurgaku…

Engkau pula yang akan mengantarkanku masuk ke dalam syurga Rabbku…

Engkau pula yang akan mengantarkanku menemui Nabiku shalallahu’alayhi wassalam

Engkau pula yang akan menemaniku menanti perjumpaan dengan Rabbku…

Rabb yang amat menyayangi hamba-Nya,, baik dalam susah maupun senang…

Rabb yang selalu mengampuni hamba-Nya, baik dosa kecil maupun besar..

Rabb yang selalu memberikan kebaikan pada hamba-Nya yang bertaqwa…

Maka jadikanlah aku seseorang yang diinginkan Rabbku…

Seseorang hamba yang senantiasa bertaqwa dimanapun aku berada, baik dalam keadaan susah maupun senang…

Untukmu calon pintu syurgaku…

-dalam penantian rahasia rabbku-

Kamis, 06 Maret 2014

one moment in my life






Finally.  Gue bisa wisuda di bulan maret
Alhamdulillah ‘ala kulli hal…
Segala puji bagi Allah atas semua keadaan yang diberikan pada gue

Makasih yang tak terhingga buat mama dan ayah gue yang terus support dan bawel nanyain “mau kemana? Kok ngampus melulu?”

Gue duduk di bangku no.33. duduk termenung ngeliat temen-temen yang heboh jeprat sana sini. Gue termenung ngerasain betapa dulu sesenggukkan karena sps gue gagal, maju sps yang kedua kali, maju hasil dan sidang.

Termenung inget dulu betapa susahnya ngerjain skripsi, bukan ngerjain tapi nungguin dosen. Harap cemas nungguin dosen dateng ngampus, cemas kerjaan gue bener atau engga, cemas liat teman-teman gue yang udah tinggal hasil tapi gue proposal aja belum. Cemas sama dosen gue yang pas proposal belio ga dating, cemas pas hasil dosen 2 gue dating tapi pas sidang, Moment sangat berharga bagi kelulusan gue belio gak hadir. Cemas gue maju selalu paling akhir, proposal paling akhir, hasil paling akhir dan sidangpun gue maju paling akhir. Cemas yang lain udah kelar sidang tapi gue belum, cemas yang lain udh di acc bu kajur tapi gue belum, cemas ditantang nyari teori sama bu kajur, cemas yang lain udah kelar ttd semua pemberkasan tapi gue H-2 pemberkasan belum di ttd sama dosbing 2. Cemas nyupirin ka novi bawa buku suci gue ke pamulang demi ttd 5 hardcover skripsi sama pemberkasan. Cemas sore-sore ke cijantung nyupirin ka muna mnt ttd dosbing 1 demi 1 form doang ke dosbing1. Cemas pulangnya malem-malem lewatin terowongan UKI.

Dan kecemasan itu belum berakhir ketika gladiresik gue nunggu transjakarta hamper 1 jam. Acara GR tinggal setengah jam lagi gue masih di jalan akhirnya gue nekat naik bajaj dengan harga selangit. Kecemasan berlanjut ketika jilbab gue masih di tukang jahit padahal besok mau dipake wisuda. Cemas kondisi mama gue yang sakit dan bela-belain jam 6 ke pasar  ngambil jilbab gue. Cemas kalo akhirnya itu tukang jahit gak buka. Cemas berangkat kesiangan jam set.8 dengan kondisi jalan macet. Cemas ketika jam 8 masih ngantri masuk ke dalam gedung, cemas setengah jam lagi acara dimulai. Cemas gue mesti nungguin temen gue di toilet lamanya nau’udzubillah. Entah apa yang dia kerjain. Padahal Cuma masukkin jarum pentul ke dasi wisuda. Dasar wanita kalo ketemu kaca gak abis-abis itu ngacanya. Dan finally, gue duduk di bangku yang setiap mahasiswa pasti merasakan “nyess” nya ketika duduk di acara wisudanya.

Gue selalu seperti ini, memiliki rasa cemas yang berlebihan, padahal gue meneliti “kecerdasan emosional” dan gue meneliti diri gue sendiri. Iya gue gak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Mungkin berada pada kategori kurang baik. Itu sungguh amat sulit sob. Iya ngilangin cemas berlebih itu amat sulit bagi gue. Untungnya Allah amat baik mengirimkan malaikat-malaikat berwujud manusia di sekeliling gue. Iya mereka malaikat di dunia ini menurut gue. Mereka itu temen-temen SMA gue. Temen-temen yang selalu nenangin gue ketika gue cemas dan takut pas mau maju proposal, maju hasil, maju sidang dan pengumpulan pemberkasan. Temen-temen super baiknya yang nemenin gue penelitian, sobat-sobat kuliah gue.

Buat dosen pembimbing 1 gue bu sri yamti runtuni, makasih banyak ya bu. Ibu yang membuat saya kuat. Iya jadi wanita itu harus gigih seperti apapun kondisi kita, kita mesti kuat. Belajar adab sebagai seorang mahasiswi, mendidik menjadi seorang yang jujur dalam hal apapun. Mendidik agar menjadi pribadi yang santun, menghargai setiap jerih payah seseorang, meskipun saya agak canggung dan bingung mesti ngomong apa pas bimbingan selain mengiyakan apa yang ibu suruh walaupun berbeda dari konsep yang saya pahami, tapi ibu tetep seorang dosen yang saya panuti. Ibu yang membuat titik klimaks cemas saya tinggi karena saya sidang terkahir, dan ibu tidak ada di tempat ketika saya sudah mau masuk ruangan. Saya cemas karena ibu satu-satunya dosen pembingbing saya. Iya ibu yang sendirian, yang saya harapkan sekali bisa ada saat itu tapi ibunya gak ada. Huaahhhhh,,,,,,tapi makasih bu udah bikin surprise saya 5 menit berlalu sms saya ibu dateng..hhe

Buat dosen pembimbing 2 gue pak muzani, makasih banyak ya pak. Bapak yang paling saya cemasi. Saya cemas sekali karena bapak mencemaskan saya ketika acc sidang. Bapak yang mencemaskan saya bisa atau tidak nanti menjawab pertanyaan-pertanyaan ketika proposal-sidang. Bapak yang saya cemasi pula karena tidak bisa hadir ketika saya sidang. Saya yang juga bingung karena takut membuat bapak ribet, karena saya tau saat itupun bapak sedang mengejar ujian thesis s3 bapak di ipb. Jadi dosen dan mahasiswanya sama-sama berjibaku mengejar sidang. Sama-sama mengejar dosen. Bapak yang ngebuat saya berani melawan arus macet Jakarta sampe pamulang. Semoga pun saya bisa ke jerman kayak bapak. Mencari pengalaman hidup disana. Semoga,,, semoga Allah memperkenankan kaki saya menginjakkan negeri eropa itu, walau saya mandang itu sungguh keajaiban yang sungguh di luar kemampuan saya.

Buat pembimbing akademik gue pak ode sofyan hardi, makasih banyak ye pak. Bapak yang selalu kepo. Tapi baiknya kayak malaikat. Dimulai dulu saya nyoba berani minta saran outline saya. Dan akhirnya saya memulai babak baru skripsi saya, saya ganti judul dan mulai memutuskan nasib saya ke DP yang lain. Alhamdulillah sampe saya kelar. Bapak yang mau nungguin pendaftaran di detik-detik kuota terakhir. Mau sabar nungguin sampe sore saya minta tandatangan pak aris dan finally saya bisa daftar hasil. Tapi pak ada satu pertanyaan yang masih saya simpen buat bapak. Dan semoga bapak dalam keadaan yang baik. Kenapa bapak waktu itu nanya saya “kamu tau radio rasil ?” saya setelah itu nyari tau rasil itu radio apa. Dan setelah tau itu radio apa, semoga hipotesis dalam benak saya tidak berhasil dan H0 saya diterima, H1 saya ditolak.

Buat pak ilham mantan DP dan dosen statistic saya. Sungguh saya terlanjur jatuh hati sama statistic pak. Sejak dulu dibimbing bapak. Saya bekerja keras belajar metodologi penelitian dan belajar statistic. Penelitian saya sungguh menguras otak saya belajar statistic. Jungkir balik agar saya paham. “kenapa sih pengaruh itu mesti pake regresi?” iya akhirnya saya paham. Terlalu amat paham sehingga sampe saat ini saya pengen menjadi dosen statistic. Semoga Allah memperkenakan saya menjadi dosen statistic. Walau saya pandang itu sungguh di luar kemampuan saya. Dan satu hal pak, saya mau kok berpartisipasi dalam pemilu dan mencoblos pemimpin asal bapak yang jadi calegnya..hhe soalnya saya tau bapak orang yang baik hati, ilmu bapak teramat luas bagi kami, sehingga perlu kerja keras kami mengikuti matakuliah bapak. Karena agama bilang pilihlah pemimpin yang baik akhlak dan agamanya. Iya saya tau bapak baik karena bapak dosen saya, jadi saya pasti milih bapak kalo bapak calegnya…heeheee…

Buat bu asma, bu kajur saya. Saya kagum sama ibu. Kagum sama supernya ibu seorang dosen yang teramat super bagi saya. Sehingga saya cemas ketika sidang bertemu ibu. Ibu yang kenal nama saya..hhe saya ge-er lho bu pas ibu manggil nama saya ketika menjelang ujian. Ternyata ibu apal nama saya..hhe saya akan inget kartu ajaib dari ibu diatas skripsi saya yang berwarna pink sampe saya poto trus masukkin ke instagram..hhe
“sudah boleh diambil”
Itu rasanya “nyess” banget bu. Trus ibu ttd lembar revision saya. Karena ibu itu juru kunci saya. DP1 saya gak mau acc kalo ibu belum acc..hhe makasih ya bu..jazaakillah khoir.

Buat mantan DP dan dosen matkul peta gue pak sucahyanto. Sungguh saya berterimakasih sama bapak. Bapak yang ngasih saya pembelajaran apa artinya “sakit” apa astinya “sabar” apa artinya “kuat”. Bapak dulu bilang makanya cari buku bukan cari masalah. Bapak yang motivasi saya untuk menjadi mahasiswa yang kuat bukan mahasiswa yang cengeng. Makasih bapak udah menyempatkan saya waktu itu menanyakan kabar saya. Alhamdulillah pak saya bisa melalui itu semua. Dan maap saya malah memilih berpindah bukan mencari buku. Maap pak, saya gak kuat nyari bukunya mesti kemana..hhe tapi jujur saya sebenarnya udah pegang buku, malah saya beli di gramed. Tapi sepertinya bapak tetap tidak menerima yang udah saya kerjakan dan saya pegang bukunya. Sampe saat ini saya senang membaca pak, semoga doa yang tersirat dari bapak agar saya bisa jadi dosen bisa terkabul.aamin.

Buat bu rayuna, ibu dosen yang saya kagumi karena matakuliah yang berbau air. Saya seneng bu sama hidrologi dan oceanografi. Karena saya seneng sama perahu kertas yang dialirin ke tengah samudera.hhe… engga deng, emang seneng aja sama matkul oseanografi. Oh iya bu, iya saya emang muslimah gak baik hhe… karena masih cetek ilmunya. Tapi bu, jangan panggil saya s***** moderat ya, kesian yang emang bener-bener s*****, gegara saya s***** jadi jelek. Padahal mah kelakuan saya aja yang gak baik..hhe eh iya bu, saya pengen bilang deh ke ibu : “jilbabnya dipanjangin lagi, soalnya r*****t ibu suka keliatan. Saya pengen kasih tau tapi takut ibu tersinggung.maap ya bu.

*poto sama bu kajur

Buat geografi UNJ Angkatan 2009

Makasih udah jadi bagian hidup gue,,,

Makasih udah ngukir kisah klasik dalam hidup gue,,,

Journey to pangandaran until ujung kulon. Dari timur sampe baratnya pulau jawa,,,

Rasanya mau nangis aja nih,,,

Berasa pas duduk di bangku tuh rasanya kosong,hampa,,,

Berasa ada yang hilang dari dalam hidup gue,,,

Kalo kata chessar di video youtubenya “kita bertemu karena ilmu dan berpisah karena masa depan”

Dear, temen-temen. Hidup kita ini singkat. Sesingkat air yang luruh di bumi ketika hujan.

Gak berasa 4,5 tahun berlalu. Nyari ilmu dan nyari pengalaman hidup di pelosok desa.

Ngeliat keberagaman kalian itu suatu untaian klasik tak bertepi bagi hidup gue

Ngeliat warna-warna kalian itu hal terindah dalam hidup gue.

Nyeseknya gue, sedihnya gue, berasa kebas ngeliat kebaikan kalian tak bertepi

Sungguh rasanya naïf banget idup gue. Gue yang kaku, gue yang sinis, dan gue yang diem aja. Gue Cuma manusia biasa. Gak selalu bisa ngertiin kalian tapi kalianlah yang selalu membuat gue mengerti bahwasanya hidup ini harus memahami. Memahami keberagaman kalian. Memahami bahwasanya hidup ini gak selalu berwarna ceria, kadang gelap dan kadang abu-abu. Samar tak tersentuh oleh perasaan. Makasih udah jadi bagian dalam hidup gue. Kalo kalian udah jadi ibu dan ayah, jadilah orangtua yang selalu memperhatikan agama bagi anak-anak kita kelak. Agama itu penting kawan bagi hidup kita, jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini singkat. Inget Allah dimanapun kita berada.

Jazaakumullah khoir udah jadi bagian dalam hidup gue…


Ittaqillah haytsuma kunta,,bertaqwalah dimanapun kita berada..