Senin, 04 Agustus 2014

ada saatnya kita berjalan sendiri



Ada saatnya kita berjalan sendiri-sendiri menghadapi kesibukkan masing-masing. Di siang senin ini, matahari terus mengeluarkan terik panasnya hingga antara aku dan bayanganku berhimpitan satu sama lain. Kami berjalan mengikuti arah kesibukkan masing-masing. Oh tidak, kamu tidak melakukan aktivitas apapun. Aku disini sendiri melakukan aktivitasku tanpa siapapun. Oh tidak juga, aku melakukan ini bersama Allah di ‘arsy sana. Dia selalu ada untukku kapanpun dan dalam kondisi apapun. Oh iya satu lagi, Allah tidak akan pernah mendustaiku. Dia selalu menjagaku, meskipun oranglain peduli tapi Dia lebih peduli melebihi kepedulian keluarga kita, begitu kata nabi salallahu ‘alayhi wassalam.

Ada saatnya pembicaraanmu mulai berubah arah layarnya. Dulu, iya dulu sekali ketika kita masih memakai jilbab peniti warna putih. Kemeja warna putih yang diselingi dengan rok abu-abu dan rok putih seringkali pembicaraan ngalor ngidul kita adalah tentang PR, guru pelajaran, peralatan seni rupa, peralatan praktikum biologi, lari-lari ketika olahraga, pidato kepsek, do’a si petugas upacara, pelantikan, kakak kelas, adik kelas, dll. Iya kita dulu asik membicarakan itu semua. Asik makan di masjid, asik ngobrolin acara sekolah serta asik pula membicarakan si dia. Iya si dia, si dia yang kita taksir di dalam diam.

Bukan, tulisan ini bukan untuk membicarakan si dia yang sudah tertinggal bertahun-tahun ke belakang dan saat ini mungkin sudah digantikan posisinya oleh seseorang kunci syurgamu. Yang kemarin kakak kelas bercerita bahkan posisinya melebihi bakti kita pada orang tua kita. Dan aku telisik lagi pada sabdanya salallahu ‘alayhi wassalam ternyata sampai-sampai wanita harus mencium kakinya saking besarnya bakti kita pada dia. Iya dia yang akan menjadi tumpuan layar perahumu.

Pembicaraan kamu akan berbelok layarnya pada kesibukkan mu saat ini, yang mungkin buatku terlalu risih untuk saat ini. Tidak, bukan risih tapi mungkin aku pandang ini terlalu belum bisa kupraktikan secara langsung dalam kehidupanku.  Tidak ada lagi mungkin nanti pembicaraan tentang nasihat menasihati kebaikan lagi. Karena kupukir engkau sudah mencukupi diri terhadap nasihat si pemegang kunci syurgamu. Bahkan kini akulah yang harus terus memahami keadaanmu. Dimana dirimu kini harus membagi waktu untuk mendapatkan syurga-Nya. Iya, kini aku harus membangun benteng pemahaman yang tangguh, hingga ada udzur bagiku memaafkanmu karena kesibukkanmu dalam meraih syurga-Nya.

Pembicaraanmu kini mulai membuka wawasan untuk diriku, bahwasanya hidup dalam bahtera seperti itu tidak sepenuhnya menjanjikan kebahagiaan. Kadang tetes demi tetes air mata menghampiri pipimu yang teduh. Bahkan lebih banyak dari itu. Karena kita dituntut untuk bisa memendam ke-egoan diri sendri, pun kebahagaian untuk hati sendiri. Karena menurutmu, dunia ini sementara. Lagi, lagi kubuka sabda nabi, ternyata dunia ini hanya selebar sayap nyaamuk dan lebih hina dari bangkai kambing yang hitam. Atas dasar hal inipula aku belajar kembali bahwasanya kita harus terus memahami dan memberi udzur pada mereka sahabat tercinta kita yang sudah berbeda setiap kondisi dan keadaannya.

Jangan takut, iya jangan takut kita sendiri. Karena pada asalnya kitapun terlahir di dunia ini sendiri dn nanti beakhir dengan kesendirian. Kita takkan sendiri, karena Dia yang di ‘arsy sana berfirman dalam kitab sucinya yang teramat mulia : “innallaha ma’ashobirin…”. Allah bersama orang-orang yang sabar, maka jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu.

Suara alunan ayatNya mulai terdengar sayup dari speaker masjid. Terik matahari mulai berjuntai di setiap sudut bumi ini. Memanaskan aspal yang berdebu dan memberikan peluh bagi orang-orang yang mencari penghidupan di muka bumi ini. Aku mengetik satu per satu huruf ini, seperti menjalani kehidupan ini. Berjalan hari demi hari, hingga menemukan bahwasanya kehidupan ini layaknya menanam sebuah pohon, kelak dengan sabar kita kan meraih buahnya.

Aku belajar darimu betapa rasanya memahami itu indah. Terus menerus memahami keadaanmu hingga tak ada lagi kabar darimu, meski menanyakan sebuah kabar. Tapi tahukah kamu, menunjukkan wajah ceria dihadapan saudaramu adalah shadaqoh. Apalagi sampai berempati pada keadaan saudaramu. Ah, sudahlah. Aku masih punya banyak cadangan rasa memahami.iya memahami keadaanmu saat ini. Hingga mungkin nanti ketika engkau butuh padaku, aku akan tetap menjulurkan tanganku dengan lebar, menyambut dirimu yang ringkih menghadapi persoalan hidupmu disana. Tapi, iya tapi jangan kau berharap pertolonganku. Mintalah pada Dia di arsy sana. Dia sungguh baik, selalu baik bahkan setiap detik pada diriku. Dan aku yakin Dia pun baik padamu yang telah memberikan kunci syurgaNya duluan padamu. Aku iri itu. Sungguh iri padamu yang telah Allah berikan suatu kenikmatan karena memberikan lebih banyak kesempatan lebih dulu menyempurnakan agama padamu hingga lebih banyak kesempatan memberikan pahala dalam berbakti pada kunci syurgamu. Iya, inilah pula suatu alasanku rasa memahamimu hingga kapanpun.

Ah iya, aku lupa. Ada sesorang selain dirimu yang mengatakan padaku. Bahwasanya tak perlu kita memaksakan bisa berada pada tahap dirimu saat ini. Karena untuk mencapai pada fase dirimu, seorang waanita perlu mental yang kuat. Perlu kesabaran yang luas. Seseorang itupun membagikan sedikit ilmunya.ah tidak sedikit, malah sungguh banyak. Bahwasanya kita harus bisa menahan ke-egoan kita ketika kita ditinggaal oleh aktivitas si kunci syurga kita. Kita harus bersabar ketika episode hati kita terluka karena ada seseorang yang Allah ciptakan untuk menguji kesetiaan kita. Ah iya, aku lupa bahwasanya si kunci syurga itu pun rupanya manusia yang memiliki segudang harga diri. Memiliki perasaan pula seperti kita. Maka hendaknya kita menjunjung tinggi perasaannya. Jika tidak suka atas perlakuannya terhadap kita maka hendaknya kita diam. Menyimpan itu semua di dalam hati kita sendiri. Atau bisa berbagi pada-Nya di ‘Arsy sana.

Lagi, lagi akupun lupa bahwasanya kamu layaknya aku yang butuh perhatian. Mencari tempat bernaung atas segala urusan hati yang mengsungkurkan diri kita, hingga tak mampu lagi kita menopang perasaan ini. Dan diri kita pun butuh nasihat dari saudari kita. Iya aku lupa, engkau adalah seorang yang butuh pada yang lain, hingga beban di pundakmu sedikit terangkat. Meski akupun hanya bisa menjadi telinga ketigamu. Menjadi tempat pendengaranmu yang tidak akan tuli sampai kapanpun. Hinggapun kau mau teriak di telingaku, maka kan kubiarkan telinga ini hingga tak dapat lagi membedakan mana kondisimu yang bahagia dan mana kondisimu yang sedih. Semua  tersentuh oleh biasnya kasih sayangku padamu.

Satu lagi kawan menutupi tulisan ku ini di sela-sela penghujung dzhuhur,,,

Aku manusia sama sepertimu yang memiliki perasaan. Dan aku mencukupi diriku pada Rabb yang tak pernah mendustaiku di sepanjang waktu hingga kaki ini melangkah di Jannah-Nya bersama nabi ku tersayang salallahu ‘alayhi wassalam. Aamin.
-         
- Jakarta, Senin 8 syawal 1435-

Kamis, 31 Juli 2014

Tingkah dan kelakuan (bodoh) gue




Pagi menyapa dengan sedikit udara yang dingin bagi gue. Mungkin buat kalian engga..haa
Tulisan kali ini bakalan ngupas tingkah stupid gue…hags.hags..
Gue juga gak ngerti kenapa ini takdir menghampiri gue. Takdir kepolosan (keluguaan) yang bikin diri gue keliatan bodoh di mata orang. Tapi gue bersyukur mungkin ini ngebuat orang-orang terhibur aka ngakak sepanjang hari karena tingkah gue. Bahkan kesel sepanjang hari karena tingkah gue.

Oke,,,kita flashback ke 5 tahun silam. Dimana muka gue masih imutnya (culun) ga ketulungan.

Gegayaan mau ngikut acara nalfisosrata jurusan. Alias acara nginep berhari-hari di luar kota. Acara ini merupakan acara lanjutan dari acara ospek jurusan. Begonya kita (mahasiswa baru alias maba), selalu terpancing bahwasanya acara itu adalah acara seru yang dibikin kakak kelas. Dan begonia lagi kita gak pernah ngambil pengalaman dari kejadian ospek kemaren. Oh iya, ospek di kampus gue ini namanya MPA (masa pengenaalan akademik). Iya emang acara ospek ini gak sadis kayak di pilem-pilem sih. Tapi menurut gue, ini acara sadis yang dibalut kekeluargaan.

Waktu jadi maba aseli gue, sok-sok ngerti gitu. Bareng sama temen beda jurusan. Gue geografi, dan dia sejarah. Oh iya, mungkin nanti gue bakalan ngulas temen baik gue yang satu ini. Nama nya siti sarah. Dipanggilnya rara. Padahal dirumah dipanggilnya siti. Gue pernah ngegugat nama dy. Eh malah dijutekkin..hhaa tapi dia temen gue yang baik. So, well dengan apa yg gue pegang saat ini. Karena gue berani-beraninya pas daftar embel-embel persiapan ospek pake jilbab gede.haha. dan pas ketemu dia, gue seneng aja. Sampe gue bener-bener terkesan ketika gue lulus. Dan akhirnya kita bisa wisuda bareng. Kita sempet poto bareng lhoo.. potonya udh gue share di cerita “one moment in my life”.

Oke, balik lagi ke cerita kelakuan bodoh gue yang bikin orang kesel. Oh iyaa sebelumnya gue mau cerita tentang ospek gue dulu. Jadi ceritanya gini. Peraturan maba adalah kita gak boleh dianterin sampe gerbang utama kampus. Dan kalo dianterin bakalan dihukum. Well, sebelum itu bodohnya gue adalah gue gak meratiin itu peraturan pas lagi persiapan sblm ospek. Peraturan itu baru gue tau ketika gue udah dihukum…

Pagi, subuh buta jam setengah enem. Gue udah rapih dengan kepompom warna merah. Selendang warna merah, tas item gede punya ayah gue, sepatu pantopel pinjeman, jilbab putih lebar punya sendiri, kemeja putih, dan rok item. Gue lupa itu minjem apa gak. Yang pasti gue gak punya apa-apa pas ospek selain buku kerdus warna merah bikinan sendiri disuruh kakak kelas. Bingung mesti naik apaan karena mesti nyampe jam enem klo ga salah. Gile aja mesti nyampe jam enem. Yaudahlah, gue merayu abang ojek gue (kk laki-laki kedua gue) yang dari dulu SMA setia ngenterin gue walo mesti narik urat minta anterin sama dia. 
Taraaa… dinginnya minta ampun naik motor jam segitu dulu.

Pas udah nyampe pom bensin gue liat temen-temen gue, kok ya pada jalan kaki. Kenapa ga turun pas di gerbang aja. Eh ternyata,,,gue nya yang bego..hha

Semua maba duduk rapih dengan culunnya. Gue, pas nyampe gerbang, baru turun dan diliatin sama kakak kelas. Ngerasa gak punya dosa. Gue jalan aja nyantai.haha

Semua ricuh dengan perlengkapan masing-masing. Tegur sapa ala mahasiswa baru. Bahkan tegur sapa bagi temen-temen yang udah kenal eh satu kampus. Canggung gimana gituh. Lucu banget kalo inget.semua disuruh berbaris sesuai jurusan masing-masing. Oh iya ini hari pertama itu ospek fakultas. Jadi masing-masing ngumpul di fakultas. Nah kebetulan fakultas gue ntuh ngumpulnya di belakang perpus pusat. Eng.ing.eng. waaktunya pemeriksaan kelengkapan ospek. Yang engga lengkap dicoret nametagnya.  Eh disuruh maju dulu deng kedepan. Baru deh dicoret nametagnya. Gue termaasuk orang-orang beruntung yang disuruh maju kedepan. Orang-orang pilihan.haha

“..plok..plok..plok..” suara sepatu cowok yang lari-larian karena terlambat. Dan dia orang yang termasuk pilihan Allah juga. Lari dengan menyelinap langsung ke barisan. Pas pemeriksaan perlengkapan, kena juga dia..haha

“kamu,,kenapa poto nametagnya pake seragam bola dan sepatu bola mau gaya jadi pemain bola,,hah?”

“engga ada lagi kak..”
(dalem hati gue ngakak ngeliat potonya)

“alasan,, gaya pemain bola..coba kamu praktekkan main bola..sekarang!”

Diem…

“ayo sekarang..”

Trus dia akhirnya mraktekkin main bola. Gue ngeliatin aja itu dy sambil cekikikan dalem hati.

Tiba saatnya gue dihisab kesalahannya sama kakak kelas.

“ini, kenapa nametag dicoret ?”

“tadi saya dianterin kak sampe gerbang kampus..”

“ooh…(gue lupa apa ucapan kk kls wktu itu ke gue..)

Tiba penghisaban semua maba yang nametagnya dicoret dan disuruh …”MAJU,,GERAK KE DEPAN..”

Inilah tingkah bodoh gue, yang gak meratiin peraturan waktu itu dan gue cumaa celingukkan pas arahannya, ngeliat temen-temen baru.wkwkwwkkk

Oke,,,hari pertama gue ospek kayak gitu nasibnya…Alhamdulillah jadi orang-orang culun pilihan..hha

Pas hari kedua itu ospek universitas. Tepatnya di kampus B. di gedung olahraganya anak-anak FIK. Bersyukur bisa bareng anak-anak FIK. Karena bisa buat hiburan semata ngeliat tingkah mereka. Tertib, teratur, culun, botak semua yang cowo, dan yang cewe di kuncir kuda. Kalo nepok tangan Cuma sekali..

Mari kita beri applause buat paak trektor..ucap moderator

Semua fakultas pada begini polanya : “PROK..PROK…PROK..” riuh dan rame..

Eh giliran anak Fakultas ilmu keolahragaaan (FIK) polanya Cuma gini : “PROK..” trus udah kelar.

Semua pada duduk berlipat sila. Rapih dah pokoknya. Gue aja kalah rapih..hhaa

Makasih ya anak-anak FIK yang diospek tahun 2009. Kalian “LUARRRR BIASSSAAA..”

Dalem hati mah gue cekikikan ngeliat tingkah mereka. Mungkin mereka juga risih kali ya, tapi apa daya mungkin kakak kelasnya sangar-sangar melebihi harimau sumatera..haha

Makasih udah ngibur gue pas MPA dulu… semoga kalian cepet pada lulus.

Oke,,, ini yang gue masih simpen juga. Eh engga deng, beerkesan aja gitu jadi pas pulang ospek gue naik angkot P47. Turun di proyek. Dibelakang gue itu ada dua cowo maba juga. Nah yang satu udah turun duluan. Gue sempet dengerin sih percakapan mereka dan gue bisa tau merekaa itu maba unj karena ngomongin kisah ospek masing2. Gue gak nengok2 ke belakang. Gue Cuma duduk diem lurus kedepan.. (mudah-mudahan supirnya gak ge-er ya  gue liatin..haha) sesekaali gue nengok ke jendela. Pas udah deket mau turun, eh itu cowo maba nyapa gue :

“maba unj juga ya?”

“iya..” dalem hati gue, yailah kaga liat apa ini baju kite samaan..haha *engga deng..

“jurusan apa?”

“geografi..”

“ooh…”

Dan Cuma sepenggal itu aja percakapannya. Tanpa liat muka dia gue langsung turun secepat kilat. Eh iya sempet nanya nama juga sih. Tapi aseli gue lupa nama dia siapa dan 
mukanya kayak apa gue kga tau. Oh dear,,sampe sekrang gue udah lulus gue kaga tau dia siapa..haha yang gue inget dia kalo gak salah anak sosiologi (biologi,,ada “gi” nya). Tapi kaga tau bener apa gak. Orang gue buru-buru turun..hha. siapapun diaa, mudaah-mudahan dia udah lulus. Kalopun belum lulus mudah-mudahan cepet lulus. Mungkin dia inget gue, karena pas gue turun kan dia bener-bener ngeliat gue..(sotoy) udah yah,, dan itu serius gak ada apa-apa. Gue Cuma penasaran aja. Sama itu orang sampe sekarang gue gak tau apa-apa tentang dy. Semoga Allah memberikan dy kebaikan dimanapun.

Hari terakhir ospek itu adaalah ospek jurusan.

Hari dimana gue nilai diri gue bego banget. Masa ospek disuruh nyanyi-nyanyi ala donal bebek. Eh engga deng itu latian buat lomba yel-yel maba fakultas. Aseli kalo inget ngkakak abis. Iya serius itu nyanyi dan goyang ala donal bebek. Klo si Donald mah bagus, lah kite… udh kayak badut.

“kami, cerdas dan…”

“deng..deng..”

Aiiiihhhh,,, memalukaan… gue mah gak maau goyang-goyang gtu. Apadah itu.. ishhh…

Jilbab lebar meeeennn,, masa disuruh kyak Donald bebek. Dan mau gak mau gue tetep ikutin nyanyi tanpa gerakknnya. Karena kakakny galak !

Oke,, banyak-banyak istighfar klo inget itu…

Nah, ceritanya pas ospek jurusan qt semua dibagi beberapa kelompok. Gue kebagian kelompok gunung Godwin. Oh dear,,,gue sekelompok sama cowo yang waktu itu dihukum jadi pemain bola. Kelakuannya itu lhoo,,bikin ngakaak melulu. Dan mungkin sejak saat itu, gue selalu satu kelompok sama dy. Kelompok oceanografi, dy and the gank yang susah gue yang dapet nilai “A”…haha

Ceritanya nilai udah keluar..

“gue yang capek, begadang, kebut-kebutan di jalan biar gak telat. Kok malah elu yang dapet A..”

Gue Cuma senyum dan mengucapkan hamdalah..hhaa

Maap yo kawan-kawan,.,, saye tak maksud apapun..hha its rejeki..

Dan finally pas gue PPL selama satu semester di sekolah gue dulu, gue pun sekelompok sama dia..haha (next cerita pengalaman PPL bareng temen-temen seperjuangan,,hhe)

Dan ospek sudah berakhir… 

perlu kalian tahu, jurusan gue itu adalah jurusan yang paling sedikit masanya. Apalagi pas angkatan gue. Cuma sedikit banget. Engga di seluruh jurusan, engga di seluruh angkatan. Angkatan gue paling sedikit. Sampe kalo PKL Cuma satu bis. Dan kita semua nyatu. Karena geografi satu….haha

Nah setelah rangkaian ospek kelar. Di jurusan gue itu ada yang namanya “NALFISOSRATA”

Pengenalan fisik, social, dan pemetaan (gue lupa “RA” nya itu apa)

Jadi kita dibentuk juga berdasarkan kelompok mentoring yang dulu. Iya kelompok gue namanya “GODWIN” gunung berapi di antara paskitan dan RRC. Kalo mau tau tentang ini coba aja : “http://ingintau2.blogspot.com/2011/06/k2-adalah-gunung-terkejam-didunia-lebih.html”

Nah ini intinya. Jadi ceritanya pas hari kedua di pos bawa air itu. Qt dikasih tantangan buat mindahin air dari ember tapi gak boleh di pegang atau dijinjing embernya. Kita Cuma dikasih tali gitu. Lagi.lagi dan lagi kelakuan gue ini yang ngeselin timbul. Gue gak meratiin itu peraturannya. Ketika temen-temen udah usaha bentaar lagi mindahin embernya. Eh dengan kesotoy’an gue buat bantuin kelompok ini malah berujung kegagalan..haha semua semangat mikir trik selanjutnya buat mindaahin ember. Dengan elegannya gue nyamperin tuh ember dan nenteng itu ember ke tempat tujuannya. Dan semua terperangah liat tingkah gue yang gaak merasa berdosa pas mindahin embernya dengan tangan sendiri.

-selesai-

*sebenarnya banyak cerita pas nalfisos tapiii udah lelah duluan ngetiknya..hhe see u next at my story in my blog

Selasa, 29 Juli 2014

Profesi itu pilihan



 Apapun profesi kita saat ini adalah pilihan yang terbaik dari Allah ta’ala

Ibu rumah tangga, guru, arsitek, insinyur, ….. (silakan sebutkan sendiri)

Karena posisi saya adalah seorang pendidik. Saya katakan pendidik bukan pengajar karena pengajar hanya sebatas mengajarkan ilmu tanpa memperhatikan akhlak anak-anak murid. Maka dari itu saya akan bercerita sedikit dengan hal yang berkaitan sebagai pendidik yakni sebagai pengajar dan pembelajar.
Pagi jam setengah enem, suhu udara Jakarta masih sejuk. Kebisingan masih teredam. Tak ada peluh keringat berdesakkan di bus ini. Bus andalan ibu kota yang semakin hari semakin bertambh jumlah penggunanya. Bus dimana tidk ada lagi orang-orang terberisikkan oleh suara fales seaadanya. Bus tak ada laagi di dalamnya orang-orang memakai wajah lesu untuk mendapatkan sedikit rejeki dari kepura-puraan lemah tak berdaya. Sehingga penumpang selalu merutuk “duh, pagi-pagi…@#$%^”

Sedikit olahraga untuk menggapai halte ini, turun naik. Lari-laari kecil jika sudah melihat dari kejauhan. Pagi yang energik… pagi  yang penuh kesibukkan. Diringi suara cicitan burung. Kami lesu menunggu bus yang sungguh jika jam nya telat dari seperti biasa maka lamanya luar biasa.

Jalanan ini jalan penghubung dari timur, selatan, utara, barat ke pusat kota. Semua kendaraan sudah mulai sibuk menapaki jalan beraspal mulus ini. Di depan halte ini dulu terdapat yang namanya gedung bioskop rivoli. Gedung bioskop yang digunakan oleh orang-orang dulu. Menghibur diri ketika kerjaan mulai memenuhi kepenatan. Tapi,,ah itu sudah lama sekali. Kebiasaan yang hanya mendapatkan kesenangan sesaat.

Kita tinggalkan kesibukkan jalanan. Mari kita kembali pada saat ini. Kamu tahu profesi itu pilihan sebuah hidup ? semua tergantung tujuan kita masing-masing. Apapun profesi kita, niatkanlah ini untuk mengambil sedikit dari dunia ini dan selebihnyaa kita lebihkan untuk akhirat kita. Kenapa ? karena dunia ini sementara dan asal kita adalah tempat dulu kakek kita, manusia pertama yang Allah ciptakan, nabi adam ‘alayhissalam diciptakan. Syurga. Iya syurga.

Tidakkah kita kangen tempat pertama kali kita diciptakan? Saya mau. Iya saya mau sekali. Gimana dengan kamu ? (tanyakan pada hati kita masing-masing)
Profesi itu pilihan. Saya sampai saat ini (masih) memilih profesi sebagai pendidik generasi selanjutnya. Ini memang pilihan yang sangat berat. Iya sungguh berat. Di profesi ini saya tidak hanya dituntut sebagaai orang yang cerdas tetapi sebagai orang yang emosinya baik. (flashback skripsi). Iya di profesi ini saya mungkin dibilang newbee. Pengalaman yang lalu sebagai pendidik mungkin masih dibilang tak ada apa-apanya untuk saat ini. Semua serba baru. Semua serba keras. Saya harus merubah kebiasaan berputar 360 derajat. Bangun pagi, berangkat pagi dan pulang larut sore hamper mendekati mghrib. Istilahnya pergi gelap, pulng gelap.

Memilih sebagai pendidik awalnya adalah pilihan yang amat paling terendah. Daari dulu sekolah hanya ingin bekerja di belakang layar computer. Di lantai tinggi gedung, deket jendela. Jadi ketika penat, bisa lngsung ngeliat keluar pemandangan. Tapi pada nyatanya Allah berkehendak lain. Saya (sampai) saat ini ditempatkan di lembaga pendidikan. Sekolah. Dimana sehari-hari berkutat mendidik anak-anak agar menjadi generasi yng menjujung tinggi ilmu dan akhlaq. Mendidik kebiasaan buruk menjadi baik. Yang jujur saya pun terkadang masih buruk disbanding mereka. Iya terkadang saya belajar kebaikan dari mereka. Saya belajar cerdas dalam segala hal pun dari mereka. Tak pernah putus semangat yang mereka tularkan pada saya.

“Menjadi guru itu adalah pekerjaan yang mulia. Mendidik anak-anak menjadi pribadi yang santun. Pergi berangkat ngajar itu merupakan jihadnya seorang guru. Pun ketika maut datang dalam keadaan kita berangkat dengan tujuan mulia yakni memberikan ilmu pada mereka, in syaa Allah dicatat sebagai amal kebaikan kita. Dengan mengajaar kita memberikan zakat ilmu yang Allah berikan pada kita kepada anak-anak. Dengan jalan mengajarlah kita memperjual belikan ilmu yang kita berikan pada Allah ta’ala. Kita memberikan ilmu kita pada orang-orang yang tadinya belum paham jadi paham. Yang tadinya tidak bisa membaca jadi bisa baca. Yang tadinya tidak bisa menghitung jadi bisa menghitung. Apapun itu, ilmu yang kita berikan kepada orang lain merupakan sebuah kebaikan “ –catatan pembukaan musyker EM**sc oleh ketua yayasan dengan sdikit tmbahan-

Saya memilih bertahan disini, di lembaga pendidikan ini karena disini terdapat banyak kebaikan untuk diri saya. Walau bisa dikatakan banyak juga beban sekolah yang diberikan pada saya. In syaa Allah saya niatkan untuk ibadah, dan saya selalu berdo’a Allah memudahkan semua kerjaan yang akan saya hadapi nanti. Semoga Allah mencatat semua kerjaan ini sebagai kebaikan untuk diri saya dan pemberat kebaikan timbangan saya nanti hingga nanti Allah mau berbaik hati mengumpulkan saya dengan nabi tercinta saya rasulullah salallahu’alayhi wassalam. Menjumpaa rasul di telaganya. Aamin allahumma amin.

Tak menafikan saya sungguh sangat ingin sekali bekerja di dalam gedung tinggi yang menjulang hamper tak terlihat batas antara langit dengan ruang kerja. Perasaan yang dari dulu saya impikan itu hampir menguap ketika melihat senyuman manis dari anak-anak itu. Pelukan hangat dari belakang tubuh anak-anak. Teriakan daan cerewetnya mereka membiaskan keinginan terpendam dalam hati saya.

Tak menafikan juga saya tak pernah suka diatur dengan atasan yang seenaknya merintah tanpa melihat keadaan dan kemampuan. Pemimpin yang selalu meanaktirikan mata pelajaran umum. Saya dan asatidzah pengampuh matpel umum selalu mengukur diri (terutama saya). Kami yang mungkin bisa dibilang memiliki keshalihan yang rendah disbanding asatidz pengampuh matpel diniyah. Kami yang selalu berusaha mengejar ketertinggalan ilmu dien kami. Tidakkah kalian merasakan betapapun kami iri dengan para wanita shalihah yang ilmunya sudah mumpuni. Saya sendiri amat menyesal, mengapa dulu tidak belajar ilmu dien saja. Tapi tak perlu lah saya menyesali takdir saya sebagai wanita yang hanya lulusan umum. Karena saya yakin Allah ta’ala mempunyai segudang hikmah untuk diri saya. Tugas saya adalah belajar agama, mengajarkan, memberi contoh pada keluarga saya, dan mengamalkan untuk diri saya. Tugas saya adalah husnudzon pada ketetapan Allah sampai kapanpun. Iya sampai kapanpun akan saya tanam dalam diri saya : “ini adalah yang terbaik untuk diri saya”


 – bogor, 2 syawal 2014-

diselesaikan sambil meresapi Q.S. AL-Qiyamah oleh ahmad saud

Sabtu, 05 Juli 2014

ini ramadhanku,,, 2014



Ramadhan 2014

Ramadhan kali ini gue ngelaluinnya di lingkungan yang masyaa Allah

Dan dengan setatus yang berbeda

Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Klo dulu gue sesenggukkan bolak balik kampus tapi sekarang gue sesenggukan karena murid… *lebay

Bnyk hal yang gue dapet dari sekolahan ini. Banyak banget.

Yang paling berkesan adalah gue paham diri gue sendiri.

Jadi ceritanya semester baru ini qt para mudarits/ah di tes stiffin. Ngetes kecerdasan masing-masing.
Finally hasilnya gue ini seorang “Thinking-ekstrovert”

Seorang yang dingin, kaku, scientist,logic…

Orang Te ini lawannya orang Fe… nah karena goldar gue “O” jadi gue ini termasuk Te campuran Fe. Analisis sotoynya adalah gue ini anget. Ga dingin ga panas..haaa
Gue punya temen yg gue anggep adik juga. 2 ustadzh yang masih belasan usianya tapi udah hafal puluhan juz. Dan mereka adalah cambuk serta cermin diri gue. 2 bocah kecil yang jd tumpuan gue buat macu diri ini untuk terus menghafal walopun sehari Cuma 1 ayat.hiks.
Mungkin nanti suatu saat kalo gue udah gk disekolaan ini, hal yng paling gue kangenin adalah 2 bocah ini….hee uhibbukifillah ya akhwat..
Gue nemuin hal yang diluar ga nemuin. Gue belajar bareng-bareng para asatidz, subhanallah. Entahlah nikmat dan anugerah yng Allah kasih buat hidup gue.
Dan ramadhan ini gue bisa ngerasain shalat di belakang syeikh yang langsung beljar di Yaman. Belio ini juga masih muda tapi ilmunyaaaa. Nyess banget gue rasanya bisa shalat di belakang seorang asatidz yang bacaannya tartil bingitz…
“Dan suatu saat setiap kebiasaan yang qt jalanin akan meninggalkan bekas untuk dikenang. Pun lingkungan kerja yg seperti ini. Lingkungan yang setiap saat mendekatkan kita pada syurga-Nya.”
kamu,,,iya kamu,,, #aladodit #standup
im waiting much moment...