"tertera, itu apa ustadzah ?"
"hmm,,, apa ya?"
"oh tercantum,,,"
"tercantum apa ?"
"apa ya? "
"nih liat , ada disini. ini namanya tertera" sambil menunjukkan tulisannya.
kamu tidak akan pernah paham, jika kita seharusnya memahami apa yang mereka tidak paham. menjadi seseorang yang dianggap hebat itu menyulitkan. padahal bukan hebat tapi kita lebih tahu dari mereka. kita sudah melangkah maju dari mereka. mencerna kata-kata yang sebelumnya kita tidak tahu.
setahun sudah aku berada di samping mereka. menambah kosakata mereka. menambah angka-angka yang asing bagi mereka sampai menambah kalamullah-Nya. bersabar atas apa-apa yang mereka hendaki tetapi itu salah. meluruskan yang tadinya belok itu susah. tanpa pertolongan-Nya kita tidak akan bisa meluruskan sesuatu yang bengkok.
ada enam, iya hanya enam. tapi mereka seseorang yang Allah ciptkan dengan ragam tingkah. mulai pendiamnya mereka sampai ramainya celotehan mereka.
كُلُّ عِلْمٍ لَيْسَ فِي الْقِرْطَاسِ ضَاعَ وَكُلُّ سِرٍّ جَاوَزَ الاِثْنَيْنِ شَاعَ "Seluruh ilmu yang tidak tercatat di kertas akan lenyap…. Dan seluruh rahasia yang telah melewati dua bibir maka akan tersebar
Selasa, 02 Juni 2015
Kamis, 14 Mei 2015
hentakan langkah (project novel)
Hari ini
stasiun padat. Penuh orang berdesak-desakkan mencari celah agar bisa dapat
melangkahkan kakinya. Aku selangkah demi selangkah maju mengikuti gerak langkah
seorang laki-laki yang setiap hari kulihat wajahnya,yang setiap hari aku dengarkan ceritanya. Langkahnya cukup
cepat hingga empat kaki ini melangkah cepat untuk mengikuti irama langkahnya. Jam
besar tergantung di atas balkon. Jarum
panjangnya terus berjalan cepat hingga aku melemparkan pandangan ke arah depan. Melihat sesosok yang aku kenal. Hingga aku
berderap terus melangkah.
Aku pikir
perjalanan ini kan terus maju, hingga tak lagi dapat ku kenal wajah-wajah yang
lewat di hadapanku. Aku terus melangkahkan
kaki menuju tujuan perjalanan ini. Aku
terus melangkah mengikuti langkahnya. Entah kapan aku paham kapan kaki ini
berhenti melangkah. Mengistirahatkan kakiku yng lelah. Aku pikir kamu paham, bahwa langkah ini terus
maju tanpa memikirkanmu yang terus berjalan. Atau kamu yang saat itu tak kuasa
menahan langkahku. Aku selalu berpikir demikian. Aku selalu mengkhawatirkan
diriku yang terus melangkah mengikuti langkahnya. Kamu masih saja terus berjalan tanpa melihat langkahku yang
semakin cepat berlalu ke tempat yang akan kutuju.
Aku lihat
kamu baik-baik saja , dan aku berpikir kamu baik meski langkahku sudah maju di
depan langkahmu. Aku terlalu mengkhawatirkan langkahku
yang terus berada maju di depanmu tapi kamu tetap berdiri saja disana. Sepertinya
kamu memang terlihat baik, sehingga aku tak perlu lagi mengkhawatirkan apakah
langkahku ini tepat ?
Selasa, 12 Mei 2015
menjadi wanita
aku pikir hidup ini adil
seseorang yang memang ditempatkan di rumah kelak akan kembali ke asalnya.
jarang sekali aku menemukan kedamaian di luar rumah.
di luar itu ramai. riuh. tak ada sedikitpun ketenangan
kamu pernah ke suatu tempat yang indah tidak ?
aku menemukan ketenangan disana.
semua memang riuh. tapi sibuk dengan urusannya masing-masing.
tak ada pandangan saling memicingkan mata. tidak ada.
kita semua sibuk menghadapkan diri. menyerahkan diri.
betapa dunia ini penuh dusta. berpeluh-peluh mencari sesuatu yang tidak mendatangkan kedamaian.
aku ingin kembali kesana.
aku bosan dengan semua ini. semua penuh pencitraan.
tak ada lagi perasaan tulus.
yang ada keegoisan.
tolong keluarkan ku dari sini.
mari kita bersama mencari ketenangan itu. syurga !
seseorang yang memang ditempatkan di rumah kelak akan kembali ke asalnya.
jarang sekali aku menemukan kedamaian di luar rumah.
di luar itu ramai. riuh. tak ada sedikitpun ketenangan
kamu pernah ke suatu tempat yang indah tidak ?
aku menemukan ketenangan disana.
semua memang riuh. tapi sibuk dengan urusannya masing-masing.
tak ada pandangan saling memicingkan mata. tidak ada.
kita semua sibuk menghadapkan diri. menyerahkan diri.
betapa dunia ini penuh dusta. berpeluh-peluh mencari sesuatu yang tidak mendatangkan kedamaian.
aku ingin kembali kesana.
aku bosan dengan semua ini. semua penuh pencitraan.
tak ada lagi perasaan tulus.
yang ada keegoisan.
tolong keluarkan ku dari sini.
mari kita bersama mencari ketenangan itu. syurga !
Jumat, 24 April 2015
project novel (JIka kamu ada dua)
Tiga
Teman Sekolah
Jika hidup
bisa berdiri sendiri, maka niscaya kita tidak akan saling kenal satu sama lain.
Tapi kenyataannya hidup bukanlah suatu rutinitas tanpa warna. Setiap detik kita
selalu menemukan cara untuk mewarnai hidup kita. Dengan cara-Nya Allah
menetukan masing-masing dari kita menemukan seseorang bahkan lebih yang
mewarnai hidup kita.
Teori mengatakan
warna pelangi itu hasil dari pembiasan hujan dengan cahaya matahari. Saling bekerja
sama satu sama lain sehingg menimbulkan warna. Indah. Setiap lika-liku yang
kita hadapi hari ini hingga esok hari memiliki keindahan. Entah melalui siapa.
Allah menciptakan keindahan itu untuk kita. Termasuk dengan hadirnya seseorang
yang selalu membuat kesedihan kita menjadi kebahagiaan.
Pagi ini,
masuk pelajaran seni rupa. Pelajaran yang digemari oleh kebanyakkan
teman-teman. Pagi di sekolah itu membuat aku selalu senang. Menjadi bagian dari
golongan orang-orang yang menikmati kesunyian, aku selalu mengikuti irama yang
terjadi hari ini. Aku tetaplah seorang wanit yang perasaannya selalu lebih
tinggi dibandingkan logika. Menjadi seorang yang baru saja menemukan hal baru,
aku selalu mencari tempat yang nyaman. Termasuk dia. Amanda Larasati.
Pelajaran yang
aku tidak senangi ini mewarnai hidupku kala itu. Sejatinya aku sangat senang
artistic sebuah benda. Tapi entah mengapa aku bukanlah tipe oranag yang suka
dengan ukuran. Hari ini rupanya kami
harus menggambar sebuah gambar dengan menggunakan jangka. Dan apesnya
nasibku adalah hari ini tidak membawa apa yang disuruh. Jadilah aku harus
mencari pinjaman ke kelas lain. Aku bingung harus kemana mencarinya. Hingga seorang
temaan baru bernama Amanda larasati ini menjadi partnerku dalam mencari teman. Siapalah
aku, seorang yang tidak memiliki banyak teman, karena teman-teman SMP ku tidak
ada yang minat masuk ke sekolah tersohor kala itu, kecuali 2 temanku fitria dan
nade. Mencari jangka seperti membawa beban yang berat, karena aku bingung
mencari kemana, tidak ada yang aku kenal. Hingga tiba saatnya kami berdua
mencari jangka ke kelas lain. Hasilnya adalah dia dapat dan aku tidak dapat. Sedih,
kesal campur jadi satu. Inilah awal kisah yang melekat pada teman baruku ini. Teman
yang Allah berikan untukku hingga dewasa ini.
***
Kehidupan memang
selalu berputar mengikuti porosnya. Hidayah itu hak Allah ta’ala. Seorang yang
sebelumnya lugu dan bodoh, jika Allah berkehendak kebaikan pada seseorang itu
tidak ada yang tidak mungkin . pastilah orang itu berada terus diatas kebaikan.
Cahaya mentari menyorot dahan ranting pohon besar ini. Menyemburkan siluet yang
indah, memilin dengan pantulan lantai. Bunyi riuhnya kelas ini menghiasi ruang
tua ini. Sebuah ruang kelas yang rindang. Aku senang sekali melihat pohon besar
ini, pohon yang setiap sisinya diplester, hingga pinggirnya membentuk persegi
untuk duduk siswa yang sedang mengadakan acara atau sekedar berbincang.
Pagi ini,
jumat pertama. Jumat yang memesona bagiku. Setiap jumat ini selalu rutin ada
anggota ekskul yang masuk ke setiap kelas. Tentunya pagi jumat ini, dihiasi
dengan lantunan al qur’an. Sekolah negeri pada umumnya ini, selalu menyisakan
kesan indah dalam diriku. Disinilah aku menemukan hidayah-Nya. Menemukan sejuta
kebaikan, menemukan teman-teman yang membuat diriku sampai saat ini seperti
ini. Menyisakan kebaikan.
Meski belum
sempurna berhijab, aku pastikan hari jumat adalah hari yang baik untuk diriku
berhias layaknya seorang muslimah sejati. Menjulurkan hijab ke tubuhnya. Begitulah
diriku. Di awal aku sudah bercerita bukan ? tentang seseorang yang sampai saat
ini selalu terdengar ocehannya, di dunia nyata maupun dunia maya. Hingga saat
ini. Saat dimana kita sudah menjadi wanita dewasa. Bukan anak SMA dulu pertama
kali bertemu.
***
Hari jumat
ini, waktunya semua murid akan tertuju pada beberapa orang yang sibuk dengan
Al-Quran di tangannya. Sibuk dengan kertas kecil di tangannya. Dan sibuk dengan
kotak-kotak kecil yang siap diedarkan seluruh kelas.
Hari dimana
aku dapat melihat dua orang wanita yang menjulurkan hijabnya hingga seluruh
tubuh. Hijab berwarna putih. Setia menemani kita membaca kalamullah-Nya. Memberikan
untaian nasihat dan terakhir menyemangati kita untuk bertakbir. Keras, hingga
rasa kantuk hilang karena kaget.
Aku selalu
terpesona dengan sosok kakak kelas ini, mereka berbeda dari kebanyakkan kakak kelas yang lain. Penampilannya
tertutup, bersih, dan inilah yang aku benar-benar terpesona, jika jilbab
segiempat lebarnya tertiup angin maka akan berkibar di ujungnya serta jika
terpantul oleh cahaya maka baying ujung segiempatnya itu akan terlihat lebih
anggun. Sempurna.
Mereka berbeda.
Pun temanku satu ini. Sungguh-sungguh berbeda. Jika yang aku lihat kebanyakan
yang memakai jilbab adalah kakak kelas, temanku yang satu ini sudah dari awal
masuk hari pertama pakai jilbab. Malu aku dibuatnya. Betapa berbedanya dia. Aku
ketika itu tidak dekat dengannya. Dia di seberang baris bangkuku. Aku duduk di
depan bersama seorang yang namanya mirip denganku. Yang pasti ketika awal, aku
beda kelompok gosipnya dengan dia.
Kata orang,
kalo mirip itu langgeng temenannya. Apa iya ? entahlah. Yang pasti aku, selalu
tidak mau dibilang mirip. Dulu ketika pelajaran kimia, kami disalahpandang. Aku
disangka dia, dan dia disangka aku. Betapa bingungnya aku. Dimanalah letak
kemiripan kita berdua. Yang pasti dia lebih unggul dariku, mulai dari nilai
pelajaran hingga agamanya. Dia lebih dulu tertutup dariku. Mungkin jika aku
laki-laki, akan aku lamar duluan dia. Haha.
Semua yang
terjadi, tidak akan lari dari kehendak-Nya. Semuanya sudah teratur sedemikian
rupa. Hingga kadang kita tidak sadar sudah diperkenalkan oleh orang-orang yang
amat baik untuk kita. Orang-orang yang selalu menyelamatkan kita pada kebaikan.
***
Bel tertanda
pelajaran di hari jumat ini usai. Terik mentari mulai menembus cakrawala. Semua
sibuk, saling mencari teman. Mencari sesorang yang akan mengikuti ekskul
pilihan masing-masing. Suara tawa dan panggilan menghias di langit biru ini. Pohon
besar itu sudah mulai dihiasi oleh tubuh-tubuh mungil itu untuk melepaskan
penat. Betapa lelahnya seharian bahkan sepekan untuk belajar. Yang setiap hari
berulang.
Angin semilir
menjatuhkan satu dua daun kering dari pohon ini. Indah sekali. Atap-atap itu
penuh daun kering, hingga tumpah ke lapangan biru itu. Suara speaker masjid
mulai terdengar. Siswa laki-laki mulai tertarik magnet jumat ini. Tanda shalat
akan segera diselenggarakan.
Jumat siang
selepas sekolah ini adalah waktunya kakak kelas yang berbeda itu beraksi. Mengajak
kami anak baru untuk ikut acara mentoring. Acara dimana berisi nasihat-nasihat
dan ajakan pada kebaikan. Dua kakak yang biasa masuk ke kelasku ini ternyata
menjadi mentorku di kemudian hari. Awalnya kau asing, bingung mau ikut tapi
tidak ada teman. Ternyata temanku yang sudah terbungkus ini, mengajakku. Jadilah
aku rutin mengikuti ini. Terimakasih teman, terimakasih telah menjadi perantara
diriku untuk meraih kebaikan, yang mudah-mudahan aku terus berada di atas
kebaikan ini. Selama satu semester rutin ikut acara ini, selama itu pula aku
memupuk keberanian untuk meneguhkan pendirianku membalut diriku dengan hijab. Yang
aku awali di semester dua kelas sepuluh. Yang akupun mendapatkan ilmu banyak
dari kegiatan pesntren kilat dari acara rohis ini.
Jika ditanya
siapa teman paling berkesan untukku di dunia baru ini. Aku akan menjawab dia. Seorang
yang paling aku sebalkan dan aku rindui suara candanya. Jika ia menganggap aku
bukanlah seorang yang berpengaruh dalam hidunya. Tidak mengapa, karena aku
dilahirkan untuk beribadah pada-Nya. Seperti kata gambar yang aku baca : “life
is a journey from Alloh to Alloh”
Teman yang
sampai akupun selalu berkesan pada setiap katanya, bahwa hidup ini harus
dihadapi bukan dihindari. Menghadapi sebuah kenyataan yang harus kita hadapi. Kenyataan
bahagia maupun sedih. Kenyataan bahwa hidup tidak selalu bahagia, kebanyakan
adalah kita harus menghadapi perasaan kehilangan, hingga kita paham arti
kehilangan. Dan kita bukan menjadi seseorang yang membuat bagaimana rasanya
terluka.
Hidup bukan
berarti sebuah sandaran, tapi kita harus menjadi sebuah sandaran. Meski kita
tahu bagaimana rasanya lelah menjadi sebuah sandaran keluarga. Aku belajar
darinya dari semua rasa itu. Belajar bagaimana hidup harus terus maju tanpa
berhenti diam di tempat. Atau kita berjalan hanya di tempat, membuat raga lelah
tapi tidak ada hasil yang didapat. Kita akan selalu menemukan hal baru, dan
sesuatu yang baru ini harus kita hadapi dengan perasaan yang lapang. Hingga sesuatu
itu dapat kita letakkan di setiap sudut tanpa harus membuat rasa sempit.
Untuk kamu yang aku selalu sebalkan . kita selalu berebut akan suatu hal. Tapi aku tidak ingin memperebutkan syurga-Nya. Aku ingin membaginya tanpa harus berantem dulu !
The last ,
jika kamu ada dua ? aku akan membagi kebahagiaanku untukmu. aku akan membawa kamu belajar bareng di unayzah. seperti obrolan angin kita yang dulu. "mau ke unyzah belajar disana."
Selasa, 21 April 2015
tulisan : mengenai waktu
Waktu adalah sebuah hal yang paling susah diajak berkompromi. Bahkan nyaris tidak bisa. Waktu juga adalah sebuah hal yang paling susah dimengerti. Tidak bisa ditebak kemana arahnya. Tidak bisa diatur pula jalannya.
Ada seseorang yang merencanakan menikah umur sekian, eh menikahnya sekian tahun lebih cepat dari rencananya. Ada orang yang berharap dan merasa matinya nanti tua, eh usia belasan tahun sudah mati karena kecelakaan. Waktu benar-benar sebuah hal yang tidak bisa ditebak.
Hari ini, sesore ini di sebuah stasiun kereta api. Aku duduk di salah satu bangku di ruang tunggu. Menunggu waktu keberangkatan. Kereta yang sedianya mengantarku ke tujuan akan datang sekitar satu jam dari sekarang. Menunggu pun sebuah permainan waktu. Bersyukurlah bagi kita semua yang sedang menunggu sesuatu yang pasti datang. Bersyukurlah bagi kita semua yang sedang menunggu dan sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang berharga, misalnya membaca buku. Sehingga waktu menunggu menjadi momen-momen yang tidak hilang kebaikannya. Bersyukurlah bila kita sedang menunggu dan yang kita tunggu adalah sesuatu yang nantinya benar-benar mengantarkan kita ke tujuan.
Bila kita sedang menunggu seseorang, maka semoga dia adalah seseorang yang bisa membersamai sekaligus menjadi sebab kita nanti sampai ke tujuan. Bila kita sedang menunggu waktu untuk meraih impian, maka semoga ini adalah jeda yang baik untuk kita mempersiapkan diri demi menyambut impian itu datang.
Hari ini, aku memandang jam besar di sudut stasiun. Satu detik terlewat, semua akan terlewat, dan menjadi masa lalu. Setiap orang pernah memiliki masa lalu dan tidak satu orang pun diantara mereka yang sanggup memperbaiki dan mengembalikan keadaan di masa lalunya. Aku termasuk bagian dari orang-orang itu. Hari ini, di sisa waktunya yang entah tidak tahu berapa lamanya. Waktu-waktu mendatang akan aku jadikan sebagai waktu terbaik. Kita tidak perlu meresahkan berapa waktu yang akan kita perbaiki, kita cukup memperbaiki setiap detiknya. Bila setiap detik kita menjadi satu nilai kebaikan, maka seluruh waktu yang kita miliki akan menjadi baik.
Hari ini, ketika kereta tiba di waktu yang telah dijanjikan. Aku percaya bahwa menemukanmu pun sebenarnya bukan soal jarak. Tapi soal waktu, sedekat atau sejauh apapun kamu, bila waktunya belum tepat. Tuhan tidak akan mempertemukan perasaan kita sama sekali.
Suatu hari, ketika waktu itu beranjak naik, menunjukkan kuasanya. Aku tersenyum, karena waktu itu telah tiba. Suatu hari, mungkin di bulan juni, di antara gerimis kota tempat tinggalmu yang dingin. Langkah kaki ini akhirnya sampai di muka rumahmu. Aku tidak pernah menyangka bahwa waktu ini akan tiba. Aku pun tidak menyangka bahwa langkah kaki itu berjalan sejauh ini. Suatu hari, hari itu akan datang. Dan aku sedang menunggu waktu itu, waktu yang pasti datang.
semakin sederhana
Semakin kamu sederhana, kamu tampak semakin memesona. Kamu tidak menyadarinya, tapi aku mengamati. Semakin sederhana bahasa yang kamu gunakan, kamu semakin mudah dipahami. Semakin mudah dimengerti tentang apa yang sebenarnya kamu kehendaki. Jangan lepaskan kesederhanaan itu. Karena hari ini, semua orang berusaha menjadi luar biasa. Dan kamu, tidak peduli semua itu dan tetap sederhana.
©kurniawangunadi
©kurniawangunadi
inilah niat
"nikah karena suka duluan boleh. dilihat aja yang disuka itu akan menjadi cerminan buat dirinya...?"
kamu suka yang kayak gimana ? _jawab dalem hati_
"kalo nikah karena ingin melindungi diri dari maksiat itu udah niat karena Allah"
masih bingung.
"kumpulin niat ikhlas pengen nikah dari perintah Allah dan Rasul-Nya tetang menikah"
"yang dipikirin itu terus biar bisa ikhlas terus, kalo ada bersitan di hati karena yang lain-lain itu jangan dibiarin netep dalam hati"
"syaithon memang gak akan rela kalo manusia taat terus"
ngangguk.
"padahal godaan syaithon cuma kayak sarang laba-laba, lemah dan bisa dipatahin"
mikir.
"manusia memang gak akan bisa memastikan secara terus menerus niat pengen nikah tetep konsis di jalur ikhlas tapi dengan upaya yang kuat Allah akan mudahkan jalannya" Q.S. 29: 69
Insyaa Allah...
percakapan di grup SMA ~~~
buat kamu yang baca, silakan dicerna.
saya? masih terus memperbaiki diri untuk kamu siapapun yang berani bertindak dalam kebaikan ---
kamu suka yang kayak gimana ? _jawab dalem hati_
"kalo nikah karena ingin melindungi diri dari maksiat itu udah niat karena Allah"
masih bingung.
"kumpulin niat ikhlas pengen nikah dari perintah Allah dan Rasul-Nya tetang menikah"
"yang dipikirin itu terus biar bisa ikhlas terus, kalo ada bersitan di hati karena yang lain-lain itu jangan dibiarin netep dalam hati"
"syaithon memang gak akan rela kalo manusia taat terus"
ngangguk.
"padahal godaan syaithon cuma kayak sarang laba-laba, lemah dan bisa dipatahin"
mikir.
"manusia memang gak akan bisa memastikan secara terus menerus niat pengen nikah tetep konsis di jalur ikhlas tapi dengan upaya yang kuat Allah akan mudahkan jalannya" Q.S. 29: 69
Insyaa Allah...
percakapan di grup SMA ~~~
buat kamu yang baca, silakan dicerna.
saya? masih terus memperbaiki diri untuk kamu siapapun yang berani bertindak dalam kebaikan ---
Langganan:
Postingan (Atom)